Pelarian dari Realita yang Brengsek
Cape gak sih nyari loker yang kelihatannya makin mustahil? Atau kalian lagi pengen nonton konser namun kondisi dompet lagi tidak bersahabat? Atau mungkin kalian baru saja kena musibah seperti HP jatuh di jalan? (ini gue baru kemaren, fakk). Tenang, selama kalian masih punya laptop, hidup masih bisa diselamatkan. Kalaupun gak punya laptop, kalian bisa melipir ke mana pun yang ada aksesnya untuk nonton film Police Story (1985) karya Jackie Chan di Netflix atau platform lainnya. Percayalah, ini obat paling ampuh buat melupakan sejenak beban hidup.
Film ini menjadi tontonan yang sepertinya akan terasa spesial kalau dinikmati sendiri, bareng teman-teman tongkrongan, ataupun keluarga di rumah. Gue merasa film ini punya energi yang bisa masuk ke siapa saja. Sebenarnya mungkin agak kurang cocok kalau ditonton bareng pasangan buat kencan romantis (gatau deng, kalau pasangan kalian suka liat orang dibanting ke kaca ya sikat aja wkwkwk).

Kalian harus tahu bahwa Jackie Chan adalah orang gila dalam arti yang sebenarnya. Di adegan pasar yang ikonik itu, dia melakukan semua aksi tanpa bantuan stuntman atau pemeran pengganti. Berdasarkan data dari ulasan beberapa sumber, aksi kejar-kejaran mobil yang menabrak perkampungan kumuh itu dilakukan secara nyata. Mereka benar-benar membangun set rumah-rumah kayu hanya untuk dihancurkan. Cedera sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Jackie dan timnya demi mendapatkan satu shot yang sempurna.
Bad Police atau Oknum?
Keberhasilan Jackie Chan memerankan karakter Ka Kui benar-benar luar biasa. Dia digambarkan sebagai polisi yang jujur, berdedikasi, sekaligus ceroboh. Pertanyaannya, apakah dia masuk kategori the good police atau bad police? Entahlah, pandangan orang soal polisi yang baik atau buruk sudah menjadi perdebatan panjang. Nyatanya, dalam film ini, kita melihat sisi kemanusiaan seorang polisi yang bisa frustrasi dan melakukan hal konyol demi menegakkan keadilan di tengah birokrasi yang ribet, yang kebetulan dia cuma manusia biasa berseragam yang kebetulan jago berantem.
Kapsul Waktu Era 80-an yang Begitulah….
Ada satu hal yang menarik kalau kita bahas film-film tahun 80-an sampai awal 2000-an. Entah kenapa gambaran karakter wanitanya selalu punya pola yang sama; sering jadi objek komedi atau sekadar pelengkap yang clueless. Gue yakin banget kalau film ini rilis di zaman sekarang, pasti udah kena cancel habis-habisan di media sosial wkwkwk. Meskipun begitu, harus gue akui interaksi mereka di film ini emang lucu banget jujur. Ada kepolosan dan gaya komedi khas masa itu yang kalau dipikir-pikir lagi sekarang emang agak problematik (tapi ya sudahlah, namanya juga produk jadul wkwkwk).
Masterpiece Komedi di Meja Telepon
Keluar dari urusan gender, mari kita bahas soal jeniusnya Jackie Chan dalam mengolah situasi sederhana jadi emas. Ada satu adegan di kantor Ka Kui yang menurut gue sangat brilian, adegan banyak telepon yang berdering secara bersamaan. Sumpah, komedinya bagus banget fakk! Dia harus mengangkat satu telepon pakai tangan, satu lagi dijepit bahu, satu lagi pakai kaki, sambil tetap mencoba mencatat laporan.
Dalam teori sinema, ini disebut sebagai pure slapstick choreography. Jackie Chan menggunakan seluruh anggota tubuhnya layaknya instrumen musik yang sedang memainkan harmoni kekacauan. Padahal ini sebenarnya hanya adegan menyerupai episode penyeling saja, semacam filler biar durasi panjang. Seandainya adegan ini dihilangkan pun sebenarnya plot utama film tetap berjalan oke-oke saja. Nyatanya, ini adalah sebuah masterpiece. Mirip kayak episode Fly di serial Breaking Bad yang cuma ngejar laler wkwkwk.
Sequence Akhir yang Berdarah-darah
Menuju sequence akhir, atmosfer film mulai berubah total. Rasanya suasana sudah mulai serius dan dinamika komedinya pelan-pelan berkurang. Film ini bertransformasi menjadi full aksi bela diri yang sangat panjang dan menegangkan. Puncaknya ada di mall, tempat di mana kaca-kaca pecah menjadi saksi betapa brutalnya koreografi Jackie Chan. Intensitasnya naik berkali-kali lipat, membuat kita lupa kalau di awal film tadi kita sempat tertawa terpingkal-pingkal. Di sini kita melihat sisi “deep” dari seorang polisi yang sudah tidak punya pilihan selain bertarung habis-habisan.

Kekurangan dalam film ini bisa dibilang sangat minim. Paling-paling gue merasa sedikit sebal pada adegan lampu jatuh yang legendaris itu. Kenapa harus dia ulang-ulang sampai tiga kali dari sudut pandang berbeda sih? Pengen banget pamer ya wkwkwk. Mungkin bagi orang yang mengharapkan film yang sepenuhnya realistis, pengulangan ini terasa mengganggu. Seandainya kalian mencari film aksi yang sangat realistis ala The Raid, mungkin gaya pengulangan re-take khas film Hong Kong lama ini bakal bikin kalian dahi berkerut. Nyatanya, itulah gaya aslinya, kalau kalian tidak suka ya tidak apa-apa, kembali ke preferensi masing-masing orang wkwkwk.
Intinya, jika kalian sedang mencari tontonan yang seru dan bisa membangkitkan mood di akhir pekan, Police Story adalah jawaban paling tepat. Film ini adalah bukti sejarah dedikasi seorang aktor yang rela mempertaruhkan tulang punggungnya demi hiburan kita semua. Tapi ada satu peringatan dari gue: jangan nyalakan volume kencang-kencang kalau kalian nonton di ruang tamu.
Mamah gue lewat pas gue lagi nonton bagian Selina (Brigitte Lin) lagi teriak-teriak ketakutan. Komentar beliau? “Kamu kok kayak nonton film porno Cina sih?!” wkwkwkwk. Gak bisa disalahin juga sih, si Selina ini emang sering banget mendesah anjir tiap kali ditarik atau didorong Jackie Chan. Padahal dia lagi disiksa penjahat, suaranya emang menyesatkan kalau didengar dari balik pintu kamar. Jadi, amankan telinga orang rumah sebelum kalian mulai menonton.