Ramadan selalu menjadi momen tahunan yang paling berkesan. Dari kecil, setiap mendengar kata “Ramadan”, yang terlintas di kepala Mamang hanyalah hal-hal menyenangkan: berburu takjil bareng Ayah, sengaja tidak tidur setelah sahur demi main bareng teman, hingga momen yang paling ditunggu—menghabiskan THR pemberian Ayah. Sungguh memori yang indah.
Namun, entah kenapa beberapa tahun ke belakang, rasanya sulit sekali menemukan kembali percikan kebahagiaan itu. Entah karena usia yang kian bertambah, atau memang ada hubungan yang sudah telanjur berubah. Mamang cuma bisa berharap, Ramadan tahun ini bisa Mamang buat menyenangkan kembali.
Di tengah keheningan menjelang Ramadan tahun ini, Mamang terus memutar lagu Bernadya, “Kita Buat Menyenangkan”. Liriknya sederhana, tapi menghantam tepat di ulu hati.
“Kini serahkan semua ujungnya pada takdir. Jika beruntung maka kisah ini tak akan berakhir. Untuk sejenak, kumohon berhenti perdebatkan yang tak penting. Kita berdamai, berjabat tangan. Tertawakan yang tak bisa dibenahi.”
Mendengar bait itu, Mamang tersadar. Mungkin selama ini Ramadan terasa berat karena Mamang terlalu sibuk berdebat dengan penyesalan masa lalu. Mamang sadar, beberapa tahun terakhir mulut ini seringkali lebih cepat bertindak untuk menyakiti orang lain dengan kata-kata, baik sengaja maupun tidak. Di saat yang sama, hubungan Mamang dengan Sang Pencipta pun terasa kian menurun. Ibadah tidak lagi segiat dulu, seringkali hanya menjadi rutinitas tanpa rasa.
Tapi, mau sampai kapan kita meratapi yang sudah rusak? Bernadya seolah bertanya lewat lagunya: “Anggap saja besok ini semua hilang. Cerita seperti apa yang mau kau kenang?”
Pertanyaan itu menampar Mamang. Jika seandainya Ramadan ini adalah kesempatan terakhir, apakah Mamang ingin dikenang sebagai sosok yang penuh gerutu dan jauh dari Tuhannya? Tentu tidak. Maka, meski momen masa kecil itu tak bisa kembali utuh, Mamang ingin mencoba strategi baru.
“Kita buat menyenangkan, di sisa waktu yang ada. Jika ada yang salah, jika kau kecewa, tolong maafkan.”
Ramadan kali ini adalah waktu untuk berdamai. Berdamai dengan diri sendiri yang sering gagal, dan berdamai dengan orang-orang yang pernah tersakiti oleh lisan ini. Mamang ingin mengucapkan terima kasih kepada setiap orang dan setiap kejadian yang telah membentuk Mamang hingga hari ini.
Tiada yang tahu pasti kapan nafas kita akan berhenti. Mungkin dalam hitungan hari, atau mungkin esok pagi kita tak ada lagi. Jadi, daripada terus gagal mencari “kebahagiaan”, mari kita buat kebahagiaan baru di masa sekarang. Kita perbaiki hubungan dengan Tuhan pelan-pelan, kita jaga lisan dengan lebih hati-hati, dan kita nikmati setiap detik sujud kita.
Sesuai pesan Bernadya: “Takkan tahu sampai kapan, selagiku masih bisa, kita buat menyenangkan.”
Ramadan ini mungkin tidak akan sama dengan saat Mamang masih kecil. Tak ada lagi THR Ayah atau main bola setelah sahur tanpa beban pikiran. Mari kita buat Ramadan tahun ini menyenangkan, sesederhana itu.