Bulan Ramadhan akhirnya resmi menyapa kita semua. Berdasarkan pengumuman resmi dari Kemenag malam ini, 1 Ramadhan dipastikan jatuh pada tanggal 19 Maret 2025. Kabar datangnya malam penuh berkah ini sedikit mengubah atmosfer di meja kayu kami, membawa rasa syukur sekaligus antusiasme yang mulai menjalar di antara kepul asap kopi dan kretek masing-masing personel.
Di sisi lain, keriuhan menyambut bulan suci ini tidak hanya datang dari pengumuman formal, tetapi juga dari “dapur” kreatif kami sendiri. Beberapa anak warkop sudah mulai sibuk menyusun gebrakan baru terkait perilisan Zine edisi khusus yang direncanakan hadir menghiasi hari-hari puasa nanti (sedikit bocoran untuk kalian: ini akan sangat spesial!). Kami mulai membedah tema, memilah isu-isu hangat yang layak diangkat, hingga merancang visual yang pas untuk menemani waktu senggang kalian setelah tarawih.
Sembari mempersiapkan Zine tersebut, saya mencoba menyempatkan diri untuk merangkum beberapa rekomendasi film bernuansa islami dan kemanusiaan. Pilihan film ini saya kurasi sedemikian rupa agar rasanya tepat untuk dinikmati dalam berbagai situasi, baik itu saat berkumpul bersama keluarga di rumah, bercengkrama dengan teman, atau bahkan sekadar “nobar” santai di sudut tivi warkop bersama kawan-kawan.
Film-film ini bukan sekadar tontonan, melainkan pemantik diskusi yang asik untuk mengisi waktu luang di bulan Ramadhan nanti. Jadi, apapun kesibukan kalian, mari persiapkan hati dan pikiran untuk menyimak deretan karya sinematik yang sudah saya siapkan ini. Tentunya, daftar ini menjanjikan pengalaman menonton yang menarik, reflektif, dan pastinya tetap seru untuk dibahas sembari menyeruput kopi sachetan. Letsgow!
1. Children of Heaven
Salah satu masterpiece Majid Majidi yang selalu dan tak luput untuk saya rekomendasikan kepada kawan ketika mencari tontonan yang menyentuh. Bayangkan, sepasang saudara Ali dan Zahra harus bergantian memakai satu-satunya sepatu sekolah setelah si Adik Zahra kehilangan sepatunya secara tidak sengaja.
Premis singkat tersebut membawa kita melihat potret Majid Majidi dalam melihat kenaifan seorang anak dalam menghadapi keterbatasan ekonomi tanpa mengeluh ataupun berbohong kepada orang tuanya.
Meski visual yang dihasilkan tampak sederhana, namun hal ini justru menopang kisah menyayat yang rasanya manusiawi dan puitis. Yaa, mungkin bisa sedikit membawa sisi empati kalian atau sedikit menghabiskan tisu karena isak tangis yang rasanya selalu mengundang ketika menikmati film ini.
2. Mencari Hilal

Masih di narasi yang puitis, Mencari Hilal rasanya bukan hanya sekadar perjalanan fisik seorang ayah yang konservatif dan anaknya yang liberal dalam titik pemantauan bulan. Bagi saya, film ini menjadi pengingat jujur tentang bagaimana kita mungkin sering terlalu sibuk berdebat soal prosedur beragama hingga lupa pada esensi kasih sayang yang menaunginya.
Kisah manusiawi yang menyentuh, kita sebagai penonton diajak menyelami hubungan ayah-anak yang nampak retak dan perlahan pulih di tengah perjalanan mencari sinyal Ramadhan. Terasa relevan kan?
Film ini cocok dinikmati sebagai sajian haru dari hari penuh berkah dan menjadi bentuk kontemplasi kalian sebelum meminta maaf kepada rekan sedarah ataupun mamang-mamang warkop yang selalu kalian hutangi itu.
3. The Salesman
Kembali lagi ke Iran, The Salesman rasanya mengajak kita melihat studi karakter yang intens, pada bagaimana sebuah peristiwa traumatis mampu mengubah cara pandang individu terhadap moralitas dan dendam. Intinya harga diri terus diuji habis-habisan, dan menjadi satu kisah menarik untuk dinikmati.
Irisan pada esensi Ramadhan tentang menahan diri yang sesungguhnya, bukan sekadar rasa lapar, tapi juga amarah yang rasanya turut selalu diundang seperti halnya kita mendengar knalpot bronx di jalan.
Kisah yang sunyi, dibalut nuansa penuh gejolak emosi, rasanya jadi kata yang pas buat sedikit ngebayangin bagaimana The Salesman bisa jadi sajian yang cocok buat dinikmati bareng teman-teman kalian ataupun sendirian.
4. Sang Pencerah
Sajian yang selalu umum tampil di tv pas Ramadhan. Sang Pencerah mungkin jadi gambaran tentang resiko menjadi berbeda di tengah tatanan budaya yang mengakar. Kita diajak melihat perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam mencoba meluruskan arah kiblat, bukan hanya secara literal, namun juga arah kiblat secara pikiran masyarakat di eranya.
Ya, mungkin film ini bisa menjadi suntikan energi spiritual dalam melihat pentingnya perubahan diri serta keberanian dalam menegakkan sebuah keyakinan yang dianggap benar, meski sendirian.
Inspiratif sekaligus kontemplatif, buat ngeliat atau memilih jalan sepi yang rasanya susah buat kita jalanin di masa kini.
5. Mudik
Mudik mungkin jadi ritual rutinan tiap Ramadhan. Tapi, di lain hal mungkin mudik bukan hanya sekadar perjalanan fisik, namun juga jadi perjalanan spiritual bagi beberapa individu, yang rasanya lebih dalam buat kita ngadepin luka lama dan upaya memaafkan, bahkan kepada diri sendiri.
Perjalanan suami-istri yang terjebak dalam konflik senyap di sepanjang aspal menuju tempat yang utama; pulang jadi premis asik buat diikutin dan tetap terasa tegang juga emosional. Bagi saya sih, film Mudik bisa jadi refleksi tepat sebelum memasuki Ramadhan karena ia bisa memotret kejujuran terkait cara memaafkan diri sendiri.
Visualnya juga asik, lewat tone teduh yang tegang, dan fakta bahwa film ini merupakan film festival yang identik sama sematan cult di mata sinefil, ngebuat saya yakin kalo Mudik bisa jadi opsi yang pas dalam perjalanan Ramadhan kamu!
6. Haji Backpacker
Meski rasanya kaya ngeliat sinetron, tapi film ini punya sisi sentimentil bagi saya, khususnya karena film ini sering jadi rujukan beberapa keluarga di rumah pas nobar. Pelarian amarah, serta titik temu pada keyakinan diri yang terasa tak terduga pada diri Mada sebagai tokoh utama.
Sesuai namanya, film ini tentu mengajak kita mengikuti Mada dalam melewati perjalanan lintas negara yang keras. Akh.. rasanya ngeliat cerita perjalanan diri dalam ngeliat situasi di dunia yang ternyata luas, kaya lagunya Pure Saturday ‘Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu?’
Haji Backpacker cukup ngingetin kalo hidayah mungkin bisa mampir di mana saja, dan jadi selipan dakwah di antara teman-teman tongkrongan kalian buat balik ke jalan Tuhan wkwkw. Lumayan dapet pahala kan?
7. Muhammad: The Messenger of God
Majid Majidi kayanya udah jadi maestro di tema ini. Lewat sajian Muhammad: The Messenger of God, kita diajak ngeliat pengalaman sinematik dalam memotret kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW di abad ke-6 dengan latar yang luar biasanya megah!
Narasi visualnya memang sangat memukau dan jadi potret tepat bagi kita ngeliat gimana Rasulullah berjuang dalam hidupnya yang legendaris itu!
Film ini tentu jadi tontonan yang pas sembari menunggu sahur ataupun buka yang ngajak kita menepi sejenak dari bisingnya dunia!
7 film itu bisa jadi opsi tontonan yang pas dalam mengarungi ibadah Ramadhan kalian, sekaligus jadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya soal pengalaman fisik, tapi juga pengalaman batin yang perlu terus ditempat dalam menemukan jalan ninja dalam diri.
Jadi, temukan jalan sepimu dan terus nikmatin prosesnya!